Catatan Harian: Di Jayapura, Suara Imam Masjid Bagai di Masjidil Haram

Sebuah kunjungan kerja (kunker) saya lakukan di awal tahun 2020 ini, paska reses. Kali ini saya berkunjung ke Papua. Provinsi paling timur di Indonesia.

Saya bermalam di Hotel Aston Jayapura. Di depan hotel ini terdapat pasar Mama Mama PAPUA, tempat masyarakat berjualan sayuran dan buah-buahan. Banyak dijumpai juga buah pinang, karena memang masyarakat Papua memiliki kebiasaan menginang.

Siang menjelang sore saya bergegas keluar hotel untuk mencari makan. Saya bertanya kepada petugas keamanan hotel, apakah ada rumah makan terdekat. Petugas keamanan hotel menunjukkan rumah makan Padang yang berada di sebelah kanan hotel. Langsung saja saya dan dan sahabat saya, Mas Bowo, bergegas menuju tempat yang ditunjuk. Memang betul, rumah makan itu tidak jauh dari hotel, mungkin hanya berjarak 100 meter saja.

Saat kami makan, terdengar suara adzan Ashar yang cukup nyaring. Saya menanyakan ke ibu pemilik rumah makan, di manakah masjid yang terdekat? Ia menunjukkan masjid yang berada di lingkungan kantor PLN Jayapura, sekitar 150 meter dari rumah makan. Saya bersepakat dengan Mas Bowo, besok pagi akan menunaikan Sholat Subuh di masjid PLN itu.

Keesokan harinya, sebagaimana kesepakatan, saat waktu subuh tiba kami langsung menuju masjid tersebut dengan berjalan kaki. Hitung-hitung sambil berolah raga. Di gerbang utama PLN nampak portal tertutup dan tidak ada petugaa satpam. Kami berusaha mencari alternatif, apakah ada masjid lain terdekat.

Kami melihat ke arah utara, nampak kubah masjid besar berwarna hijau dan putih. Langsung saja kami menujukan langkah kaki kami ke masjid itu. Tak memakan waktu banyak untuk menuju masjid itu, karena hanya berjarak sekitar 250 meter saja dari kantor PLN.

Saat kami memasuki halaman masjid, masih terpampang spanduk tabligh akbar menyambut tahun baru 2020 dengan penceramah DR. Muhammad Syamsi Ali, Lc. MA sebagai Iman Besar di Islamic Centre of New York Amerika Serikat. Dalam hati saya, ini pasti masjid yang makmur.

Betul saja ketika saya masuk ke ruang utama masjid, terasa sangat sejuk karena menggunakan pendingin ruangan. Jumlah jamaah yang ikut Sholat Subuh itu sekitar 200 orang. Kapasitas masjid berlantai dua itu mungkin bisa menampung jamaah sekitar 1.500 orang.

Saat Sholat Subuh berjamaah dilangsungkan, suara imam masjid yang masih muda ini sungguh sangat luar biasa, seperti suara Syekh Syuraim, sehingga kami merasa seolah sedang sholat di Masjidil Haram.

Keesokan harinya, kami pun mengulangi Sholat Subuh di masjid ini dan ternyata jamaahnya masih tetap sama dengan imam juga yang sama. Betapa nikmat saya merasakan sholat shubuh di Masjid Raya Baiturrahim Jayapura.

Ya Allah, jadikanlah kami ahli masjid, yang tertambat hati kami di masjid, yang senantiasa memakmurkan masjid-masjid-Mu. Aamiin.

Leave a Comment