Catatan Harian: Belajar dari NU

Di hari yang baik ini, Jum’at, 31 Januari 2020, Nahdlatul Ulama (NU) sudah berusia 94 tahun. Hampir satu abad. Sebuah usia yang sangat panjang. Tak banyak organisasi masyarakat dan kegamaan memiliki rentang waktu sepanjang ini.

NU berdiri pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Hasil kesepakatan para kyiai di masa itu. Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagi Rais Akbar. Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy’ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU , yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Teramat banyak hal yang dapat kita pelajari dari NU. Terutama bagaimana caranya mengabdi pada umat, bangsa dan negara. Jaringan pesantrennya tersebar luas hingga pelosok Tanah Air. Para kyai dan kadernya juga terus bergerak bersama masyarakat. Dan perjuangannya memerdekakan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negeri ini sudah tak terhitung.

Yang paling fenomenal adalah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. PBNU mengundang konsul-konsul NU di seluruh Jawa dan Madura yang hadir pada tanggal 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya. Dalam rapat yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”, yang isinya sebagai berikut:

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…”

Dalam tempo singkat, Surabaya guncang oleh kabar seruan jihad dari PBNU ini. Dari masjid ke masjid dan dari musholla ke musholla tersiar seruan jihad yang dengan sukacita disambut penduduk Surabaya. Sejak dimaklumkan tanggal 22 Oktober 1945, Resolusi Jihad membakar semangat seluruh lapisan rakyat hingga pemimpin di Jawa Timur terutama di Surabaya, sehingga dengan tegas mereka berani menolak kehadiran Sekutu.

Saya sendiri dididik dan dibesarkan dalam lingkungan NU. Tepatnya di Pesantren Buntet, Cirebon. Saya teringat dengan kisah Mahaguru saya di Buntet, yaitu Gurunda Kiai Abbas, murid kesayangan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Beliau berpesan: Wahai Jiwa Kau Harus Turun Berlaga!”

Saat ini saya menjadi kader PKS. Perjuangan PKS dan NU sama yaitu menjaga Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, hanya lapangan kerjanya saja yang berbeda. NU lebih konsentrasi pada pendidikan keummatan, sedangkan PKS sebagai partai politik menyiapkan pejabat publik dan kebijakan publik yang pro keummatan. Pada titik inilah, PKS harus banyak belajar dari NU.

Selamat Hari Kelahiran NU. Semoga semakin maju dan terus berkarya untuk bangsa. Aamin.

Leave a Comment