Catatan Harian: Pers Sehat Negara Berdaulat

Ini adalah hari bersejarah bagi insan pers di Tanah Air. Di hari ini, 9 Februari, tercatat sebagai Hari Pers Nasional. Beragam acara dihelat untuk memperingatinya. Puncaknya di Kalimantan Selatan yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo.

Pers atau media merupakan pilar keempat demokrasi. Itu artinya, pers memiliki peran sangat penting dalam memajukan kehidupan demokrasi di Indonesia. Membangun pers sama saja dengan membangun demokrasi dan negara.

Semakin hari, tantangan media kian berat. Budaya komunikasi yang berubah drastis dan perkembangan cepat teknologi, membuat media ikut terseret dalam arus besar perubahan yang tak terhindarkan.

Jika dulu kredo pers adalah News is you didn’t know yesterday. Kini, berubah menjadi News is you didn’t know last second. Sangat cepat informasi datang dan bergelombang bagai tsunami. Tak terbendung.

Tantangan lain yang belum sirna sejak dulu yakini soal independensi, netralitas, keberimbangan, Cover both sides. Semua ini butuh kerja keras untuk mewujudkannya.

Awak media harus selalu ingat dengan Sembilan Elemen Jurnalisme Bill Kovach, yakni:

1) Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran

2) Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga Negara

3) Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi

4) Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya

5) Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan

6) Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan menemukan kompromi

7) Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan

8)Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional

9) Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.

Atau dalam konteks Al Qur’an, Allah SWT menyinggung ini dalam firmanNya:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Al-Hujurat: 6)

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini termasuk ayat yang agung karena mengandung sebuah pelajaran yang penting agar umat tidak mudah terpancing, atau mudah menerima begitu saja berita yang tidak jelas sumbernya, atau berita yang jelas sumbernya tetapi sumber itu dikenal sebagai media penyebar berita palsu, isu murahan atau berita yang menebar fitnah.

Ayat ini turun karena berita bohong yang disampaikan Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith saat ia diutus oleh Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musththaliq yang dipimpin Al-Harits bin Dhirar. Al-Walid justru menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya, padahal ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musththaliq.

Kontan Rasulullah murka dengan berita tersebut dan mengutus Khalid untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga turunlah ayat ini mengingatkan bahaya berita palsu yang coba disebarkan oleh orang fasik yang hampir berakibat terjadinya permusuhan antar sesama umat Islam saat itu.

Saya yakin, insan pers hari-hari ini semakin matang dan dewasa. Dan elemen jurnalisme Kovach insya Allah akan dan sudah mereka wujudkan. Sehingga tercipta pers yang sehat dan negara berdaulat.

Selamat Hari Pers Nasional

Leave a Comment