Corona dan Pentingnya Kehadiran Negara

 

 

Usai Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua orang di Indonesia terjangkit virus corona, publik gaduh. Harga masker melonjak. Warga memborong sembako. Terlihat ada kepanikan.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil merespons cepat. Beberapa jam setelah diketahui dua orang yang terjangkit virus ada di Depok, Kang Emil segera menetapkan status siaga 1 di Tanah Pasundan. Sementara itu, dalam satu hari, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sudah dua kali melakukan konferensi pers. Khusus merespons Corona dan bagaimana Pemprov DKI melakukan langkah-langkah pencegahan dan penanggulangannya.

Reaksi cepat semacam ini sangat perlu dilakukan. Sebab, masyarakat harus ditenangkan. Dan salah satu caranya dengan tampilnya para pemangku kebijakan untuk menjelaskan kondisi yang terjadi.

Sayangnya, di tengah kabar Corona yang telah masuk ke Tanah Air, pengawasan pemerintah di pintu-pintu masuk bandara internasional terlihat kurang optimal. Baru saja saya membaca berita tentang keheranan seorang WNI yang baru pulang dari luar negeri. Dia hanya diminta mengisi formulir dan tidak diperiksa di Bandara Juanda, Surabaya.

Padahal, jika merujuk pada keterangan Presiden Jokowi dua orang yang terjangkit corona sempat kontak dengan warga negara Jepang yang datang ke Indonesia. Terjadinya penularan dari warga negara asing ini sangat disayangkan, dan membenarkan betapa lemahnya pengawasan yang dilakukan pemerintah di bandara-bandara.

Di Terminal III Bandara Internasional Soekarno-Hatta, penumpang yang datang hanya diminta mengisi formulir kesehatan berwarna kuning yang berisi penilaian pribadi, bukan penilaian medis. Pemeriksaan suhu tubuhpun seperti dilakukan secara acak saja. Tidak semua penumpang dicek suhu tubuhnya.

Hal ini sangat jauh dengan pemeriksaan Bandara di Milan, Italia. Seluruh penumpang dicek suhu tubuhnya dengan cara diperiksa keningnya menggunakan termometer oleh petugas kesehatan dengan masker. Sedangkan petugas kesehatan lainnya berjaga-jaga di sekitarnya untuk melayani penumpang yang kedapatan dengan suhu tinggi. Bagi yang suhunya normal, dipersilakan lanjut ke bagian imigrasi untuk cap paspor.

Ini tidak boleh dibiarkan. Negara harus hadir. Caranya agar lebih serius dan bekerja lebih keras dalam menjaga seluruh pintu masuk ke Indonesia baik Bandara. Ini sesuai dengan amanat Pasal 5 ayat 1 UU No.6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, bahwa Pemerintah Pusat bertanggungjawab menyelenggarakan Kekarantinaan Kesehatan di Pintu Masuk dan di Wilayah Indonesia secara terpadu. Selain itu juga segera dibentuk Satgas Antivirus Corona yang dapat disiagakan diseluruh pintu-pintu masuk tersebut.

 

Selain itu, pemerintah juga harus memastikan ketersediaan stok masker dan bahan makanan. Adanya panic buying di kalangan masyarakat sangat mengkhawatirkan. Pemerintah harus juga mampu mengendalikan harga masker dan kebutuhan pangan lainnya.

Kita percaya pemerintah bisa dengan cepat melakukan ini. Karena harga yang harus dibayar sangat mahal jika salah dan lamban mengantisipasinya. Dan lagi-lagi rakyat yang akan jadi korban.

Semoga tidak terjadi.

Leave a Comment